Merasa baik atau memang baik?

Jangan mengungkit keburukan orang lain untuk menunjukkan bahwa anda orang baik. Orang betul-betul baik tidak membicarakan keburukan sesama. (Mario Teguh)

Mengikat Hikmah – Kebetulan siang itu penulis berjumpa kolega lama. Seorang pejabat eselon III disebuah instansi pemerintah. Disebuah rumah makan disudut kota. Pejabat yang baik, begitu pandangan saya selama ini tentang dia.

Seperti biasa ia banyak bercerita. Tentang kebaikan-kebaikan yang telah dilakukannya. Pada atasannya, pada bawahannya. Pada masyarakat, pada instansi pemerintah tempat ia bekerja. Pokoknya terbaik lah begitu dalam hati saya, tentang dia.

Tapi,, tungu dulu. Setelah lama tak jumpa, kali ini ada yang berbeda. Ketika ia bercerita, tentang obsesinya. Rencananya. Tentang kebukurukan-keburukan para koleganya. Sesama pejabat instansi pemerintah. Kelemahan-kelemahan mereka. Kecurigaan-kecurigaannya. Prasangka buruknya. Bahkan tekadnya untuk menelanjangi para koleganya. Membeberkan aib mereka.

“Semuanya telah saya inventarisir. Bahkan saya sedang mengumpulkan data-datanya” ungkapnya bangga. Pokoknya tinggal nunggu waktunya saja. Lalu apa tujuannya? Tujuannya, ternyata untuk menunjukkan bahwa ialah pejabat terbaik diantara mereka. Diantara para koleganya.

Ternyata kini ia sama saja. Penganut dan pengikut politik rimba raya. Laksana para Singa buas, menerkam mangsanya. Kebaikan-kebaikan hanyalah tinggal cerita. Menjadi bingkai sebuah citra. Parahnya, agama pun kadang dijual murah. Demi ambisi kekuasaan belaka.

Lalu masih layak kah prediket baik, kusematkan padanya?. Atau sama saja dengan lainnya? Termasuk golongan para Singa? Yang sekedar mabuk persaan merasa baik saja?

Padahal sejatinya dalam agama kita. Akan lebih baik jika keburukan itu, disampaikan empat mata pada mereka. Sebagai masukan, pelajaran bagi empunya. Ketimbang harus diumbar kemana-mana? . bukankah mengumbar aib itu, laksana memakan bangkai saudaranya? Tapi, “bah bodoh kali lah kita”. ungkapnya tertawa.

“Makanya Suardi, kamu tu harus lebih banyak belajar pada saya. Kalau ingin jadi penguasa dizaman gila”.  Kalau tidak kamu akan ketinggalan kereta. Jadi manusia langka.” Ujarnya. Kita harus gila dizaman gila. Bagi wartawan, Bukankah konflik dan skandal merupakan nilai berita?

Begitu juga bagi penguasa. Saat ini, mecari kesalahan-kesalahan orang, Justru merupakan senjata. Menaikkan position bargaining atau daya tawar kita. Dimata atasan, dan bawahan kita. Dimata rakyat lugu sana.  Masak mantan wartawan lupa seni permainannya. Ujarnya sambil tertawa.

Tapi biarlah abangnda, Suardi jadi orang bodoh saja. Ungkapku menyela. Bak kata mendiang ayah saya, dalam pesan yang selalu disampaikannya. Kadang lebih baik dianggap bodoh, tapi tak bodoh. Ketimbang pura-pura baik, tapi tak baik. Terkait kebaikan ala “Rimba Raya” yang sedang trend dikalangan singa saat ini.  Mario Teguhpun dalam salah satu Quote nya pernah mengungkapkan.

Jangan mengungkit keburukan orang lain untuk menunjukkan bahwa anda orang baik. Orang betul-betul baik tidak membicarakan keburukan sesama.***

 

Penulis: Suardi, M.I.Kom

(Dosen Penulisan Feature FDK UIN Suska Riau)

Please follow and like us:

1 Komentar

Tinggalkan Balasan