Nilai potongan Tiket dalam Dompet

“Ternyata disamping penipu, masih banyak orang baik lainnnya. Begitulah dunia. sesuatu yang tak berharga, bisa jadi tak ternilai harganya bagi orang lainnya”.

Mengikat Hikmah – Tahun ini, Desember ceria ternyata tak begitu belaku pada saya. Terutama memasuki pekan ketiga. Begitu banyak musibah yang menerpa. Mulai dari musibah banjir, dikampung halaman yang melanda. Ditambah ujian sakit orang-orang tercinta, dikeluarga besar saya.

Sebagai Wartawan laman Mengikat Hikmah, tentu saja saya tak boleh menyerah dan putus asa. Pasti ada hikmah, dibalik peritiwa dan musibah. Memang kadang dicatat, tapi belum sempat mengikat atau menuliskannya. Libur ini, kunikmati saja dengan menuliskannya. Siapa tau ada manfaatnya juga bagi anda

Hingga akhirnya, pagi Senin (17/12/2018) lalu, saat pergi berangkat bekerja. Ditengah pikiran yang sedang gundah. Saya mimilih berangkat mengendarai motor saja. Melewati jalan alternatif, yang sebagiannya masih berupa tanah. Kebetulan sedang dikikis dan ditimbun pula. Membuat perjalanan serasa naik kuda.

Begitu sampai di gerbang belakang kampus, baru kusadari. Ternyata dompet disaku celana belakang, sudah tak ada. Membuat ku begitu gundah gulana. Memang uang didalamnya, tidak seberapa. Namun dokumen-dokumen penting lainnya, ada disana. Mulai dari KARPEG dan STNK, SIM dan KTP pun semua disana. Belum lagi BPJS dan dokumen-dokumen penting lainnya. Sampai-sampai jadwal kuliah pagi itu, ku batalkan begitu saja. Demi mencari dompet, yang tercecer dari saku celana.

Tak kurang sepuluh kali, aku bolak balik dijalan tanah. Bertanya dibeberapa kedai, dan rumah warga. Namun sia-sia belaka. Tak ada hasilnya. Di tengah keadaan yang hampir putus asa, akhirnya terpikir untuk membuatnya di status FB saja. Disinilah letak hikmah dan pelajarannya.

Begitu di upload, tiba-tiba ada yang nilpun di ujung sana. Tak jelas siapa namanya, nomornya 083143090907. Namun saya begitu bahagia, karena ia mengaku telah menemukan dompet saya. Semula, ingin rasanya bertemu langsung dengannya. Menjemput dompet saya. Sambil menyerahkan imbalan untuknya. Namun ia mengatakan tak usah memberi imbalan segala. “Saya hanya ingin menyerahkan dompet bapak saja.” Tak pelak lagi, saya dan isteripun klepek-klepek dubuatnya. Betapa baiknya dia.

Sayangnya pria yang mengaku sebagai sopir itu, sudah terlalu jauh dari Kota Pekanbaru. Dalam perjalanan ke Jambi sebagai wilayah yang dituju. Waduh, bagaimana pula solusinya itu?. Ia pun mengatakan, akan mengirimnya lewat jasa pengiriman. “tolong alamat bapak di SMS kan” ujarnya mengatakan. Alamat pun segera saya ketik kan, SMS pun dikirimkan.

Tak lama ia kembali menilpun, minta dikirim biaya pengiriman. Kata jasa pengiriman, uang sejumlah Rp 68 ribu harus segera dikirimkan. Ke nomor rekening, 9000.0441.8042.1 a.n. Rahmanika, pengelola jasa pengiriman.. Tak apa-apa jika bapak lebihkan, sekalian untuk jajan dijalan. Memangnya apa jasa pengiriman yang digunakan? Kalau boleh fotonya tolong dikirimkan. Ia pun minta nomor WA yang saya gunakan. Namun setelah menunggu, tak ada jawaban.

Tiba-tiba, nomor WA  yang katanya punya jasa pengiriman di SMS kan. Saya pun kembali mengirimkan pesan, agar paket yang dikirim difotokan. Namun ia beralasan paketnya sudah terlanjur diantarkan. Akan tiba di Pekanbaru sekitar pagi jam setengah sembilan.

Lain kali bapak harus hati-hati. Kalau bapak ingin menambah untuk uang susu anak saya, akan saya terima dengan senang hati.Walupun isteri saya begitu simpati, namun saya kok mulai curiga, ada yang tak beres disini. Saya pun berjanji, uang akan saya kirim lagi, jika paketnya sudah sampai disini.

Benar saja, esoknya hingga waktu yang di tentukan, dompet pun tak pernah sampai ditangan. Bahkan nomor tilpunnya pun tak lagi diaktifkan. Ternyata betul juga, Saya sudah jadi korban penipuan. Tapi begitulah kehidupan.

Isteri saya terus berusaha menenangkan. Ia janji akan menemankan, kekantor polisi membuat laporan. Dokumen-dokumen yang hilang itu, nanti bisa diganti lagi. Kalau ada surat keterangan hilang dari polisi. Tentang uang yang di ATM, kan bisa diblokir, atau di pindahkan. Saya pun manut saja. Namun entah mengapa, ternyata ia mengerti, kalau saya masih gelisah.

Isteri ku pun bertanya. Adakah barang lain yang begitu berharga? Ada, jawab saya. Diantaranya, potongan Tiket nonton bola yang saya simpan sejak tahun 2002. Juga lembaran uang Arab Saudi, yang dulu dikasih almarhum ayah saya. Bagi orang lain, itu pasti tak ada nilainya. Tapi entah mengapa, bagi saya itulah yang paling berharga.

Potongan tiket itu misalnya, begitu punya kenangan istimewa bagi saya. Dulu, saat masih menjadi wartawan di salah satu media, saya dan almarhum Harjono-terakhir wartawan Riau Pos dan ketua PWI Rohul-teman saya, dipanggil pimpinan perusahaan, bang Zupra. Ia memberikan pada kami sebuah tiket nonton bola. Didalam amplop. Pertandingan PSPS liga utama, di stadion Rumbai sana.

Saking senangnya, meski tak mandi, kami langsung saja bergegas. Menuju stadion, tempat pertandingan bola. Memakai sandal jepit, celana pendek dan baju kaos oblong seadanya.

Begitu sampai di gerbang utama, amplop tiket pun kami serahkan begitu saja. Namun tak seperti penonton lainnya. Petugas menyuruh kami duduk dikursi, nanti akan dijemput panitia. Tak butuh waktu lama, kami dijemput dua gadis yang begitu cantik jelita. Memasuki pintu VVIP, menuju Tribun utama. Kursinya pun tak biasa. Ada meja, dipenuhi cemilan dan aneka buah.

Saat dipersilahkan duduk, tentu saja kami canggung dibuatnya. Mengingat hanya penampilan kami saja yang berbeda. Apalagi ketika mata saya tertuju pada bacaan yang ditaruh diatas meja. Tepat disisi kanan saya. Tempat duduk itu milik Gubernur Riau, ternyata. Sedangkan yang kami duduki, tak lain kursi ketua DPRD Riau, Drh. Chadir, juga Pimpinan Umum, media tempat saya bekerja.

Meski sudah 16 tahun berlalu, kejadian itu begitu membekas di hati saya. Begitu juga bagi almarhum Harjono teman saya. Membuat seisi kantor, terpingkal-pingkal tertawa. Makanya potongan tiket itu selalu saya simpan, karena begitu berharga bagi saya.

Sedangkan lembaran uang Arab Saudi, yang diberikan almarhum ayah saya. Ia memberikannya kesaya, dengan harapan suatu saat saya bisa sampai ke Mekkah. Tempat asal uang itu tentunya. Mudah-mudahan suatu saat, saya bisa memenuhi harapan ayah. Serta mendoakannya disana.

Kembali ke cerita dompet saya. Dua hari setelahnya, sebuah pesan messanger masuk ke FB saya. Pemilik akunnya, tak berteman dengan saya. Semula, saya tak percaya. Mungkin ini modus penipuan berikutnya. Sampai pemilik akun itu mengirimkan foto dompet saya. Lengkap dengan alamat tempat tinggalnya. Ia pun mempersilahkan saya, siang itu menjemputnya. Ternyata disamping penipu, masih banyak orang baik lainnnya. Begitulah dunia.***

Penulis: Suardi

(PNS biasa, mengajar penulisan feature Prodi Komunikasi FDK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

4 Komentar

  1. Febri Balas

    Persis kasus penipuan yg sy alami barusan dengan nomor hp yang sama. Awalnya berlagak orang baik tidak mau menerima imbalan.. dan posisi lagi diluar kota dan akan ke kota kisaran 3 minggu lagi Mungkin supaya kita gak bisa ketemu sama orangnya.. dan kemudian minta ongkos jasa kirim sbesar 68.000 (katanya sdh di travel dan barang akan dikirm sampai besok pagi).Kemudian ujung2nya SMS minta tambahan sukarela..

    Maksud hati untuk menghindari penipuan atas saran teman2 supaya jgn di transfer dulu, akhirnya sy minta supaya barang dikirim dulu dan bayar ditempat. Setelah itu sy kasi imbalannya..kata si penipunya gak bisa.. travel minta biaya langsung

    Karena sy butuh dengan surat2 terserbut.. ya udah sy transfer 150.000 ke rekening mandiri no. 14100.1756.6787 A.N : Rika. setelah sy transfer.. komunikasi SMS mulai slow respon.. disini mulai gak enak sama orang ini.. sy sms gak dibalas.. iseng sy search di google nomor hp tersebut.. dah keluar berbagai macam kasus penipuan.. sdh banyak korban.. Saya hanya bisa mengucap aja..

    Jadikan buat pengalaman bagi teman2 semua jika terjadi kasus spt sy ini.. pastikan dulu. jangan begitu percaya begitu saja dan mentransfer sejumlah uang..

    150.000 insya allah masih bisa sy cari.. mungkin masih banyak kasus peniupuan uang yg lebih besar lagi dari sy..

    begitu cerita saya..

  2. Fendri Jaswir Balas

    Mantap. Makin bagus tulisannya. Walaupun masih ada yg perlu diperbaiki, biar lebih lugas

Tinggalkan Balasan