Pahang; menyatukan lagi keluarga yang hilang

Mengikat Hikmahfoto-foto itu sudah ada, sejak saya kecil dulu. Gambar seorang laki-laki, yang merupakan salah seorang kerabat kami. Ia adalah “Tuok uwo” kami. Abu Bakar, salah seorang paman kami. Lebih tepatnya, saudara laki-laki paling tua dari ibu kami. Hingga kini salah satu foto itu, masih menggantung di salah-satu sisi dinding rumah ibu kami. Satu-satu nya pelepas rindu, bagi ibu dan keluarga kami.

Meski beliau salah seorang paman kami. Saya sendiri tak bisa pungkiri, tak begitu mengenali paman kami yang satu ini. Karena jauh sebelum kelahiran saya, ia telah pergi merantau meninggalkan kampung kami. Hanya foto-foto itulah yang saya kenali.

Dari cerita-cerita yang saya tahu, ehem..ternyata beliau juga punya tempramen tinggi. Sama seperti kami. Kalau sudah emosi, semua kadang jadi tak terkendali. Hal itu jugalah, salah satu yang menyebabkan ia pergi. Jarang pulang ke kampung lagi.

Bahkan seumur hidupnya, ia hanya pulang kampung dua kali. Itu pun bertemu dengan saya langsung, hanya sekali. Tahun 1989, saat saya kesekolah, masih mengenakkan seragam merah putih.

Saat itu ia pulang, memboyong keluarganya. Setelah berhasil lolos, dari kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawa mereka sekeluarga. Atas insiden tenggelamnya kapal yang ditumpanginya, di Selat Malaka. Dalam pelayaran dari negeri jiran Malaysia. Membuatnya kehilangan, hampir seluruh harta bendanya. Sejak itulah ia pun tak pernah pulang lagi, sampai akhir hayatnya.

Berdasarkan cerita adek ibu saya satu lagi, Munzir Hitami, ia pergi ketika kakak tertua saya masih bayi. Sekitar tahun 1971 Masehi. Berbekal SK sebagai Guru Pegawai Negeri. Ditugaskan di Sungai Apit, Kecamatan Siak, Riau, tempatnya harus mengabdi. Dalam perjalanannya ternyata, ia lebih sibuk menjadi pedagang barang smokel dari Malaysia. Ketimbang melaksanakan tugasnya. Sampai-sampai, ia pun rela melepaskan status sebagai abdi negara.

Belakangan entah mengapa, ia pulang kampung untuk pertama kalinya. Bermaksud mengurus kembali status pegawai negerinya. Lewat datuk kami almarhum Karim Yuni, yang saat itu sedang kuliah di Jakarta. Singkat cerita, datuk Karim Yuni pun menolak keinginanya. Tak mau mengurusnya. Ia pun marah sejadi-jadinya. Sejak itu, ia memutuskan merantau ke Malaysia. Menetap di wilayah Pahang, Batu Lima.

Pasca kepulangannya terakhir itu, paman saya Munzir Hitami sempat mencarinya. Berbekal informasi dari orang-orang yang pernah bertemu dengannya. Ternyata di Malaysia, disamping menjalani profesi sebagai guru ngaji, Juga melakoni pekerjaan sebagai Tukang rumah. Kabar terakhir, isterinya menderita kangker otak.

Tahun 2000 lalu, setelah lama berkeliling, paman saya Munzir Hitami, akhirnya berhasil menemukan kediaman keluarganya. Bersama lima orang anaknya. Namun, saat itu kondisinya sudah sepuh. Isterinya yang sedang sakit itu, sudah meninggal satu setengah tahun lalu. “Tuok Uwo Bakar sangat ingin ikut pulang kampung dengannya saat itu. Bahkan Ia sempat menangis” kenang Munzir Hitami. Namun karena tiket yang di pesan hanya satu, ditambah berbagai kondisi yang tak memungkinkan saat itu, Tuok Uwo Bakar tak bisa ikut pulang dengannnya saat itu.

Tragisnya, satu setengah bulan kemudian, terdengar kabar memilukan. Tuok Uwo Bakar telah berpulang. Dikebunyikan di pemakaman umum di daerah Pahang. Mendengar kabar itu, orang-orang ber-takziah kerumah ibu. Melakukan shalat ghaib, sembari melakukan tahlilan. Bersama keluarga dikampung.

Beberapa tahun kemudian, paman saya Munzir Hitami sempat kembali berkunjung lagi kesana. Namun ia menemukan rumah kediaman Tuok Uwo Bakar sudah kosong. Anak-anaknya pun sudah pergi entah kemana.

Terakhir setahun yang lalu, di penghujung jabatannya sebagai rektor UIN Suska Riau saat itu. Dalam kunjungannya ke Malaysia, ia kembali mendatangi rumah itu. Tempat terakhir ia bertemu abang sulungnya itu. Namun yang ditemukan, hanya sebuah rumah kayu yang sudah mulai lapuk dan lusuh. Penduduk sekitar pun mengaku tak tahu. Entah kemana rimbanya, anak-anak Tuok uwo yang lima orang itu.

Sejak itu, paman terus menelusuri jejak keluarga kami yang hilang itu. Lewat kenalan-kenalan dan kolega yang tinggal di negeri jiran itu. Hingga dua minggu yang lalu, seorang kolega menilpun. Telah menemukan keberadaan salah satu keberadaan anak mendiang Tuok Uwo kami. Sampai-sampai ibu yang kini sudah sepuh, menangis mendengar kabar itu.

Tiket pun segera dipesan. Bersama paman dan amai, ibu dan saya sendiri. Berharap bisa bertemu kembali. menautkan kembali silaturrahmi. Setelah hampir 20 tahun menanti. Semoga ridho Allah menyertai kami***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan