Ketika Malaysia tak mau lagi kompromi dengan perokok

Mengikat HikmahSore itu, ketika sampai di ruang tunggu keberangkatan Bandara Sultan Syarif Kasim II, saya bukan main leganya. Pasalnya, Paspor yang sudah dua tahun saya kantongi itu, akhirnya di cap juga. Ssttt,, jangan bilang siapa-siapa, kalau ini cap perdana. Namun kelegaan itu, seakan sirna tiba-tiba. Ketika dari Corong pengeras suara, nama ibu saya panggil pula. Disuruh menghadap ke petugas Bandara. Terkait barang bawaannya.

Tapi bukankah barang bawaan, yang katanya rentan dicegat di Bandara justeru ada di tas saya? Lima bungkus rokok itu misalnya. Bersama pemantik api Zipponya. Tapi malah lancar-lancar saja. “kok bisa ya?” kata Amai yg dari awal mewanti-wanti agar bekal rokok-rokok itu ditinggalkan saja.

Ternyata, malah “ Oluo”-makanan tradisional Kampar-Red dan rendang yang dibawa ibu, dicurigai petugas bandara. Setelah dijelaskan adik laki-lakinya, Prof Munzir Hitami MA, akhirnya petugas Bandara memperbolehkan untuk dibawa.

Sekitar jam lima sore, pesawat “Air Asia yang kami tumpangi,  mendarat di bandara Kuala Kumpur Airport II,  Malaysia. Jauhnya jalan kaki. Menurun dan mendaki. Dari anjungan ke tempat bagasi. membuat saya harus mencari kursi roda. Untuk ibu saya, yang memang sedang kambuh Asam uratnya.

Seperti biasa, saat menunggu datangnya jemputan,  saya pun clingak-clinguk mencari smoking area. Tapi kok tak ada?.. Malahan stiker merah dilarang merokok ada dimana-mana. Bukan hanya di ruang-ruang ber Ac saja.  Tapi juga di kedai minuman dan makanan terbuka, serta kawasan publik lainnya.

Tentu saja ini menjadi momok bagi anggota Majelis “Suro” (sukak Rokok)-meminjam istilah Prof Asmal May- seperti saya. Percuma saja bekal rokok yang saya bawa. Tak bisa juga menghisapnya.

Tapi tak apa. Tunda saja. Kan bisa “Dijamak“. Kalau ketemu tempatnya,  biar tak hisap sekaligus tiga” begitu dalam hati saya. Ha.. Ha..

Jemputan pun tiba. Pertemuan dengan keluarga yang hilang, dijadwalkan dua hari setelah kedatangan kami di Malaysia. Menjelang itu,  perjalanan dilanjutkan ke Pulau Langkawi. Pulau yang katanya, sempat lesuh itu. Kini mulai menggeliat bergairah lagi. Semenjak Mahatir Mohammad  terpilih kembali menjadi perdana memteri.

Setelah satu jam perjalanan kereta -istilah mobil di Malaysia- kami hanya singgah sebentar disalah satu rumah kolega. Melanjutkan perjalanan empat jam berikutnya. Pak Long yang tadi mengemudi, mengajak singgah untuk sarapan. Disebuah warung makan di pinggir jalan.

Sebagai anggota majelis Suro, saya berpikir ini akan jadi ajang “balas dendam”. Setelah lama hasrat merokok itu ditahan.. Pastilah bisa merokok bebas. Toh hanya warung pinggir jalan.

Namun begitu duduk sambil mengeluarkan bungkusan rokok yang sejak tadi disimpan, seorang pelayan langsung saja mengarahkan pandangan, pada stiker-stiker merah yang banyak ditempelkan. Alamak.. terpaksa bungkusan rokok yang tadi dikeluarkan, kini harus kembali disimpan.

Puncaknya disiang hari, setelah selesai makan. Setelah beberapa lama menahan, saya pun langsung mencari kesempatan. Begitu mobil kami parkir disalah satu pusat perbelanjaan. Saya memutuskan tak ikut ke dalam. Melainkan mencari tempat yang sunyi. Agak jauh dari stiker-stiker merah yang menakutkan. Di pojok halaman rumah makan. Disitulah aksi merokok itu saya lakukan.

Meski agak sembunyi-sembunyi, tiba-tiba saya dikagetkan suara sang paman. “Jangan sampai gara-gara merokok sembarangan, kamu di denda 10.000 RM. Kemana uang itu harus dicarikan?” ujar sang Paman.

Ternyata, mulai 1 Januari 2019, Pemerintah Malaysia telah mengeluarkan larangan merokok di semua restoran, kedai kopi, dan pusat jajanan secara nasional. peraturan baru yang mencakup semua restoran, kedai kopi dan juga termasuk kios-kios makanan yang berada di jalanan. Begitu juga ditempat-tempat publik yang telah ditetapkan.

Mereka yang melanggar dan kedapatan merokok di area tersebut, akan didenda hingga 10.000 ringgit, setara dengan Rp 36 juta atau dua tahun penjara. Denda juga diterapkan untuk restoran yang kedapatan mengizinkan pelanggannya merokok di restoran.

Bila kedapatan diketahui mengizinkan pelanggannya merokok, restoran akan didenda hingga 2.500 ringgit atau setara dengan Rp 9 juta. Ternyata Malaysia kini sudah mulai tegas. Tak mau lagi kompromi dengan para majelis “Suro”. Bagaimana dengan Indonesia?. Berani nggak ya..? Semoga saja .***

Penulis: Suardi

(Dosen Prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau)

Please follow and like us:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan