Jejak kasih dalam tangis bahagia paman dan ibu

Mengikat HikmahTadinya, tulisan perjalanan “jejak kasih” ini, ingin penulis simpan saja. Biarlah jadi catatan, untuk konsumsi pribadi saja. Namun ternyata, banyak juga kawan-kawan yang bertanya. Lagi pula perjalanan itu begitu berkesan bagi ibu dan paman saya. Diusia mereka yang kini tak lagi muda. perjalanan itu sepertinya, begitu berarti bagi mereka.

Bahkan meski kini sepekan sudah berlalu, ibu masih tampak semangat menceritakan setiap detil perjalanannya. Cerita bertemu handai tolan di Malaysia. Tentang pertemuannya dengan anak-anak “Uwo”-saudara sulungnya. Membuatnya begitu merasa lega.  Merasa bahagia. Bahkan merasa seakan bertemu kembali dengan saudara sulungnya. Yang hampir 20 tahun lalu itu, meninggal di Malaysia.

Ternyata, anak Tuok Uwo enam orang bersaudara. Semula kami menyangka hanya lima bersaudara. Semuanya sudah berkeluarga. Tinggal diberbagai wilayah di Malaysia.

Sebenarnya, tahun 2016 lalu, anak lelaki paling sulung “Tuok Uwo”-bang Khairul Hasby, pernah ke Indonesia. Mengunjungi tanah leluhur isterinya. Yang seorang Polisi Wanita Diraja Malaysia. Kakek isterinya juga berasal dari Kampar, Riau, Indonesia. Tepatnya di desa Batu Belah. Tak jauh dari kampung saya, Teratak, Rumbio Jaya. Namun karena kepulangannya terakhir 30 tahun lalu itu, membuatnya tak ingat lagi apa-apa. Padahal jaraknya hanya beberapa kilo dari kampung ibu saya. Yang juga tanah leluhurnya.

Paling tidak, jejak kasih yang sempat putus itu, kini tertaut kembali. Tak hanya membawa kelegaan bagi ibu saya. Tapi juga paman saya, Prof Dr H Munzir Hitami, MA. Dimana, ketika saudara sulungnya itu meninggal di Malaysia, hanya berjarak satu setengah bulan dari pertemuan terakhir mereka. Yang selalu membayanginya. Ketika Tuok Uwo sempat menangis, ingin ikut pulang ke Indonesia.Tapi apalah daya, sang paman saat itu juga sedang menyelesaikan pendidikan di Yogyakarta. Yang kemudian membuat kami sempat kehilangan jejak anak-anaknya.

Namun tak ayal, ternyata hal itu seakan menjadi beban yang terus menggelayut di pundaknya. Itu jugalah yang membuat sang paman bertahun-tahun mencari tahu jejak-jejak mereka. Hingga perjalanan sepekan, yang dimulai 12 hingga 19 Januari itu pun dimulai. Berbekal informasi awal dari Pak uwo Syamsul Kamar. Salah seorang kerabat, yang bermukim di Taman Jaya, Temerloh, Paya Pulai.

Informasi itu kemudian ditelusuri “Pak long” Syarif. Masih kerabat “Amai”- isteri paman saya. Namun lahir di Malaysia. Pensiunan pejabat pemerintah disana. Setahun belakangan, lebih betah menetap di Pekanbaru, Riau Indonesia.

Pak long Syarif lah yang mengatur semuanya. Kami juga menginap di rumahnya yang disana. Di daerah Cheras, Kuala lumpur, Malaysia.

Dari sana jugalah kami diajak berkeliling Malaysia. Melihat segala kemajuan pembangunan Malaysia. Menyusuri keasrian kampung-kampungnya, dengan aneka kulinernya. Mengunjungi sanak saudara yang telah menetap disana.

Salah satunya, saudara sulung satu ayah dengan saya. yang sudah lama menetap di Malaysia. Kami biasa memanggilnya Uwo Pani. Beberapa tahun belakangan, memang tak pernah lagi pulang ke Indonesia.

Ternyata, terakhir ia menderita stroke, yang sempat melumpuhkan badannya. Juga komplikasi dengan “Penyakit gula”. Menjalar mengganggu saraf mata. Membuatnya sempat kehilangan penglihatannya.

Namun tahun lalu,  ia baru saja menjalani operasi mata disalah satu rumah sakit di Malaysia.  Alhamdulillah, berhasil mengembalikan penglihatannya. Badannya pun,  mulai membaik. Bahkan sudah bisa mengendarai kereta. Kami pun begitu lega dan bahagia, setelah bercerita dan melihat langsung keadaannya.

Pertemuan yang ditunggu-tunggu itu dijadwalkan hari Rabu, (15/1/2019). di daerah Temerloh. Dari Cheras, menempuh waktu hampir empat jam. Dipandu “Pak Long” Syarif, yang memang sangat tangguh menyetir kereta.

Menuju kediaman pak wuo Syamsul Kamar. Telah menetap disana sejak tahun 90 –an lalu. Dari beliau jugalah tahun 2000 lalu kami dapat kabar, Perihal berpulangnya tuok uwo Bakar.

Dari kediaman pak wuo Syamsul Kamar, barulah selepas Zuhur kami menuju kediaman salah seorang anak Tuok Uwo Bakar. Namanya Sumi. Tinggal di Taman Jaya 8, Temerloh, Paya Pulai. Dulunya masih seorang gadis kecil, ketika alamarhum Tuok Uwo pulang terakhir kali. Kini sudah bersuamikan seorang Cikgu, punya anak tiga.

Ternyata di kediaman Sumi, juga telah berkumpul anak Tuok Uwo lainnya. Ada abang sulunya, Kahirul Hasby. Kakak perempuannya Khairyanti Nizar, dan adek laki-lakinya, Mawardi Hasby. Sedangkan dua adek laki-laki Sumi lainnya, berhalangan hadir.

Namun tak mengurangi kekhidmatan pertemuan jejak kasih itu. Terlihat, bagaimana lega dan bahagianya paman dan ibu. Yang tak sanggup menyembunyikan air mata mereka. Semoga ini bukan lagi pertemuan terakhir kalinya. Paling tidak, keluarga di Indonesia kini merasa Bahagia. Bisa mengamati anak-anak Tuok Uwo di sosial media.***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan