Anwar ingin berdiri dikaki sendiri

Bagi yang tiap hari melewati seputaran Jalan Garuda Sakti- Buluh Cina – UIN Suska Riau, sosok di foto ini mungkin tak asing lagi. Lelaki muda dengan keterbatasan fisik. Berjalan tertatih membawa berbagai surat kabar dan koran. Hampir tiap hari, ditengah terik mentari. Kadang juga tak peduli gerimis hujan. Demi menjemput rezki. Dengan menjajakan koran.

Mengikat Hikmah – Anwar, itulah nama lelaki muda itu. Umurnya 38 tahun. Tinggal bersama ibu dan dua saudaranya. Disebuah rumah sederhana, kilometer tiga Garuda Sakti jalan Ketitiran ujung, Panam, Pekanbaru. Pagi itu, jam tangan baru menunjukkan pukul enam. Namun mentari seakan enggan muncul kepermukaan. Diselimuti pekatnya awan hitam. Diiringi rintik gerimis hujan.

Ternyata bagi Anwar, cuaca pagi itu bukanlah halangan. Seperti biasa, pagi itu dengan berjalan tertatih, ia telah meninggalkan rumah. Mengejar mimpi, merajut asah. Lewat koran-koran yang telah di bungkus kantong plastik, agar tak basah.

Satu persatu, toko dan kedai sarapan di pinggir jalan disinggahinya. Berharap ada yang membeli jualan korannya. Ditengah surat kabar dan koran, yang makin kurang diminati. Tergerus perkembangan teknologi digital saat ini.

Jika dulu Anwar bisa mengantongi penghasilan 50 ribu sampai 60 ribu setiap hari. Kini hanya tinggal separohnya. Berkisar 25 ribu hingga 30 ribu saja. Setelah dibagi dengan agen koran, yang setiap hari mengantar koran kerumahnya.

Hampir enam tahun sudah, Anwar menjalani pekerjaanya. Ditengah keterbatasan fisik, bawaan lahir pada dirinya. Membuatnya agak kurang lancar, jika bicara. Jalannya pun agak tersendat, ketika melangkah.

Namun kondisi fisik itu tak membuatnya menyerah. tak ingin menggantungkan hidup, pada keluarga. Atau berharap belas kasihan, dengan meminta-minta. Hal itulah yang menjadi cemeti, melecut semangatnya.

Bagi Anwar, berdiri dikaki sendiri menjadi sebuah Marwah. Marwah yang terus akan diperjuangkannya. Bagaimanapun caranya. Termasuk dengan berjualan koran, yang selama ini telah dilkoninya.

Anwar menjajakan koran, mulai jam enam pagi hingga tengah hari. Disamping untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selebihnya disimpan pada ibunya.

Layaknya laki-laki dewasa, ternyata Anwar juga punya keinginan menikah. Ketika ditanya, apakah sudah menemukan calonnya? Anwar hanya tersenyum saja. “saya yakin, Allah akan memberikan jodoh buat saya” ujar Anwar tertawa. Biarlah itu menjadi rahasiaNya. Yang penting saya akan tetap sungguh-sungguh berusaha, Juga berdoa. Mengumpulkan sedikit-demi sedikit, hasil tetes keringat saya. “memamg belum sampai puluhan juta. Mudah-mudahan nantinya cukup untuk biaya menikah dan membuka usaha” ujarnya.

 

Ternyata melihat lesunya penjualan koran saat ini, Anwar juga telah punya rencana. Jika tabungannya telah cukup, ia ingin membuka kedai harian di rumahnya.

Bagi Anwar, dalam menjalani hidup jangan pernah menyerah. jangan berpangku tangan. Lakukan apa yang bisa dilakukan. Jangan hanya menjadi beban, dengan berharap belas kasihan. Selalulah memberi manfaat. Tidak pun bagi orang banyak, setidaknya bagi keluarga dan diri sendiri.

Rasanya, tak sia-sia saya membeli koran Anwar pagi itu. Barakallah Anwar. Terimkasih pelajran dan hikmahnya.***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan