Jalan Sunyi Haji Suhaimi

Raut wajahnya seketika berubah. Matanya agak berkaca-kaca. Seakan tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Ketika perbincangan kami siang itu, membicarakan tentang suka duka menjalani rutinitasnya. Sebagai relawan pemelihara dan pelestari pepohonan, yang sudah tiga tahun dijalaninya. Yang  seakan telah menjadi panggilan jiwa baginya.

Mengikat Hikmah – Biasanya, rutinitas itu dilakoninya setiap pagi Sabtu. Dengan mengenakkan sebuah topi yang telah menjadi ciri khasnya itu. Yang dibelinya di kota Mekkah, saat menunaikan ibadah haji dulu. Dengan mengayuh sepeda onthelnya kesayangannya itu.

Menyusuri ruas-ruas jalan di kota Pekanbaru. Berbekal Linggis dan sepotong kayu. Memeriksa setiap pepohonan yang dilaluinya satu persatu. Jika melihat ada paku tertancap di pohon-pohon itu, dengan cekatan ia pun segera mencabutinya satu persatu.

Dalam rutinitasnya selama tiga tahun itu, hampir semua ruas jalan di kecamatan Tampan, Pekanbaru, telah ditelusurinya. Sekitar 40 kg paku pun telah dikumpulkannya. Yang diperoleh dari paku-paku yang tertancap di  pepohonan pinggir jalan yang dilaluinya.

Terinspirasi ketika mengikuti mata kuliah etika lingkungan. Saat  menempuh pendidikan S3 ilmu lingkungan. Dari sinilah munculnya kesadaran Haji Suhami, terhadap pelestarian alam.

Dimana dalam pandangannya, perhatian kebanyakan kita selama ini hanya tertuju pada etika manusia. Sementara etika lingkungan malah terkesan diabaikan. Tak pelak lagi, manusia pun hanya dipandandang sebagai makhluk sosial belaka.

Padahal, jika kita mau melihat lebih luas dan lebih dalam, manusia itu sejatinya makhluk ekologi. Dimana alam atau lingkungan, menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan. Bahkan alam layaknya bagian keluarga yang tak bisa dinafikkan.

Dari sinilah perhatian Haji Suhami, tertuju pada pohon. Yang selama ini keberadaannya seperti keluarga yang dinafikkan. Yang pelestariannya cenderung lebih pada slogan. Padahal, keberadaannya di kota Pekanbaru yang terkenal dengan cuacanya yang panas, sangat dibutuhkan. Namun sebaliknya, memelihara dan melestarikan pohon, ibarat berada dijalan sunyi yang terlupakan.

Sejak itu, Haji Suhaimi, mengambil peran itu. Berjalan di jalan sunyi yang terlupakan itu. Bertekad mendedikasikan dirinya menjadi relawan. Khususnya relawan pelestari pepohonan. Berjuang tanpa mengharap imbalan dan penghargaan. Demi kepuasan batinnya melestarikan pepohonan. Terutama membebaskan pohon dari siksaan. Dari tindakan semena-mena memaku pepohonan, dengan berbagai tujuan.

Tak dinyana, sebagai relawan pelestari lingkungan. Ternyata keberadaan Suhaimi,  di jalan sunyi, kerap menemukan kesedihan.

Pernah satu ketika, Suhaimi mengaku merasa begitu sedih dan terharu. Ketika menemukan sebatang kayu, yang ditancapi hingga 47 paku. “Bayangkan, betapa tersiksanya pohon itu” ungkap Suhaimi haru.

Bukan itu saja. Pernah disepanjang Jalan Gajah Mada, ia juga menemukan hal yang tak biasa. Setiap pohon dipinggirannya, ditancapi paku-paku seukuran enam inchi. Membuat Suhaimi, kewalahan ketika mencabutinya.

Namun yang kini seakan menghantuinya, ketika melakukan rutinitasnya Sabtu, 2 Februari lalu. Saat menyusuri jalan SM Amin, tepatnya tak jauh dari bundaran songket itu. Suhaimi yang juga dosen senior prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau itu, menemukan sebatang pohon pelindung yang sengaja diikat dengan tali baja. Untuk menahan tiang listrik yang tak jauh dari keberadaannya.

Dari bentuknya, terlihat betapa tersiksanya pohon itu. “namun hingga kini, saya seakan tak bisa melakukan apa-apa. Untuk melepas penderitaannya” ujar Suhaimi kecewa.

Pelestarian lingkungan, memang diperlukan kesadaran bersama. Tak cukup dari relawan pelestari lingkungan saja. Melainkan terintegrasi bersama. Baik pemerintah, maupun tokoh-tokoh lainnya.

Suhaimi yang merupakan salah satu dosen pavorit penulis semasa kuliah di S1 itu, pun menyadari. Bagi sebagian orang, tindakannya mungkin terkesan lebay dan irasional.

Namun ketika kita mau melihatnya dari sudut pandang ekologi, disitulah akan munculnya empati atau rasa. Rasa yang menggap pohon sebagai bagain keluarga. Sebagai makhluk, yang mesti dihormati apa yang menjadi hak yang melekat padanya. Seakan merasakan apa yang dirasakannya sebagai keluarga. Ketika ia disiksa. Diperlakukan semena-mena.

Ketika ditanya sampai kapan Suhaimi akan menjadi relawan pemilahara dan pelestari pohon? “selagi sehat dan mampu” ujar Suhaimi mantap.

Namun di usianya yang kini memasuki 61 tahun itu, paling tidak ia berharap bisa menularkan “rasa” pada masyarakat kita. Terutama generasi muda. Sehingga nantinya, di tiap-tiap daerah akan muncul relawan-relawan lainnya. Terutama dari kalangan generasi muda. Yang mau menapaki jalan sunyi yang kini dilaluinya. ***

 

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi, FDIK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

1 Komentar

Tinggalkan Balasan