Mutiara Hitam dari Papua; Pancarkan Kilau di UIN Suska Riau

Saya sempat dibuat kaget dan Terperangah. Begitu masuk ruang kuliah, saat pertemuan perdana. Tepatnya di lokal  Jurnalistik V/A, prodi Komunikasi UIN Suska Riau, tahun 2016 lalu. Pasalnya, dari 38 mahasiswa di lokal itu, ada satu mahasiswa yang terlihat beda.

Mengikat Hikmah – Sosoknya tak biasa. Tak seperti mahasiswa UIN Suska Riau kebanyakan. Dari paras wajahnya, bentuk rambutnya, sampai warna kulitnya. Ssst.. rasanya, baru kali ini saya kalah. Biasanya, jarang ada mahasiswa, yang mengalahkan gelapnya kulit saya. Usut punya usut, terang saja. Ternyata ia memang sebutir “Mutiara Hitam dari Papua”.

Saya pun dibuat lega. Bagaimana tidak, tadinya saya sempat mengira, ia salah seorang peserta program pertukaran mahasiswa antar negara.  konsekuensinya, tentu saja saya tak bisa leluasa menyampaikan kuliah berbahasa Indonesia. Hampir saja saat itu, saya nekat memberikan kuliah dengan bahasa Inggris terbata-bata; Ups.  

Untung saja, sebelum kuliah, saya minta para mahasiswa itu memperkenalkan dirinya. Ternyata ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, juga menguasai bahasa daerah. Bahasa sehari-hari kebanyakan teman-temannya. Mungkin Itu jugalah yang membuatnya leluasa, ketika berinteraksi, bersenda gurau bersama teman-teman di lokalnya. Kecele saya.

Mahludin Wamoi; itulah nama panggilan Mutiara hitam dari  Kaimana, propinsi papua barat itu. Bagi saya sebagai dosen pengampu mata kuliah di lokalnya saat itu, Wamoi salah satu mahasiswa yang mampu menunjukkan pancaran kemilau cahayanya. Lewat pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya. Daya kritisnya. Antusiasnya mengikuti kuliah. Rasanya tak sia-sia juga, kala itu saya “mengganjar”nya dengan nila A. Bahkan Indeks Prestasi Kumalatif (IPK) terakhirnya, setahu saya diatas 3,5. Meski ia juga aktif dalam berbagai organisasi ekstra.

Lalu, bagaimana pula  mutiara hitam itu, sampai terdampar di prodi Komunikasi UIN Suska Riau? Saat  teman-temannya dari Papua, lebih memilih kuliah di Jawa? Atau daerah-daerah terdekat lainnya? Padahal Pulang Pergi (PP) Pekanbaru-Papua, ongkos pesawatnyanya saja bisa mencapai enam juta. Belum lagi jarak tempuh, yang bisa menghabiskan waktu hingga delapan jam dengan transportasi udara.

Beruntung Redaksi Mengikat Hikmah bisa berbincang dengan beliau. Saat makan siang di sebuah kedai Ampera langganannya. Di seputaran Kampus UIN Suska Riau , Panam, Jalan Buluh Cina, Pekanbaru. Rabu (12/2/2019) lalu.

Ternyata, hijrah dalam “Tholabul ‘Ilmi”; mencari ilmu dalam mengharap ridho dan cinta Allah- Red, menjadi alasan utamanya. Apa hubungannya dengan jauh-jauh kuliah di UIN Suska Riau?

Begini pandangan Wamoi. Semakin jauh berhijrah, semakin banyak menemukan hal baru yang bisa dibaca. Karena membaca tak hanya aksara. Bisa dengan memahami hal-hal baru dan berbeda. Membaca juga merupakan salah satu pintu “Thalabul Ilmi”. Ungkap Wamoi berusaha menjelaskannya.  Saya pun termangu mendengarkannya.

Siang itu, Wamoi juga bercerita tentang lika-liku perjalanannya. Hingga bisa kuliah dengan bantuan  beasiswa “Bidik Misi” dari kementrian Agama.

Ternyata, dari SMP, Wamoi memang sudah terbiasa berhijrah, menjelajah meninggalkan rumah. Dikarenakan jarak tempuh, antara tempat tinggalnya dari sekolah. Minimal, memerlukan waktu satu jam. Dengan menyusuri sungai menggunakan perahu motor.

Kondisi inilah yang membuatnya harus mencari tempat tinggal disekitar sekolah. Yang juga terus mengasah naluri hijrahnya.

Setelah menamatkan pendidikan SMP dan SMA di kabupaten Kaimana, anak ketiga dari 13 bersaudara ini semula tak berpikir untuk melanjutkan kuliah. Mengingat, ada sembilan orang lagi adeknya yang membutuhkan biaya. Orang tuanya pun hanya bekerja sebagai nelayan tradisional di Papua.

Namun keinginannya untuk hijrah, mencari dan memahami pengalaman-pengalaman baru, pengetahuan-pengetahuan baru, membuatnya berkeinginan menyusul salah seorang pamannya. Dari informasi terakhir, pamannya itu tinggal di Surabaya. Yang sebenarnya selama 20 tahun, tak pernah bertemu langsung dengannya.

Wamoi pun mematangkan niatnya. Tahun 2012, ia berangkat sendiri, menyusul pamannya. Hijrah dari Papua ke Surabaya. Berlayar dengan kapal laut, lebih kurang delapan hari lamanya.

Sesampai di pelabuhan Surabaya, Wamoi harus naik mobil lagi ke Gresik. Menuju kediaman sang paman, yang bekerja disana sebagai kuli bangunan.

Tinggal di rumah sang paman di Gresik, Wamoi pun sempat mondok di pesantren. Penduduk disana biasa menyebut pesantren Pondok Burih, di desa Sido Wungo. Namun di Pondok Wurih, Wamoi merasa diperlakukan berbeda dengan santri lainnya. Pengasuh membolehkannya merokok, ngopi dan kebiasaan-kebiasaan lainnya sebagai orang Papua.

Pada akhirnya, menjadikan Wamoi tak enak hati pada teman-temannya. “bisa jadi hal itu dikarenakan stigma negatif yang melekat pada orang papua. yang cenderung diidentikkan dengan orang yang suka merokok, bahkan suka minum dan mabok”. Ujar Wamoi.

Akhirnya, Wamoi memutuskan keluar dari pondok. Sambil juga berusaha berhenti merokok. Padahal Wamoi mengaku, sejak SMP memang sudah mempunyai kebiasaan merokok.

Ia juga mulai berpikir untuk melanjutkan kuliah. Pun sempat kuliah di STAI Al-Azhar Gresik. Mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Membuatnya mulai besentuhan dengan berbagai organisasi mahasiswa.

Namun hanya sampai semester tiga, karena tak mampu membayar uang kuliah. Walau sebenarnya sempat diberikan keringanan oleh pimpinan kampus disana.

Seiring berjalannnya waktu, Wamoi pun mulai sering berselisih paham dengan sang paman. Yang masih sangat fanatik dengan hal-hal mistik. Yang sebagian telah menjadi tradisi dan kebiasaan. Puncaknya, Wamoi pun Keluar dari rumah sang paman.

Hijrah ke ibu kota Surabaya. Tinggal di Asrama mahasiswa Kaimana. Berniat melanjutkan kuliah lagi disana. Mendaftar di Universitas Pamulangan (UNPAM). Mengambil Jurusan sastra Indonesia. Berbekal uang tiga juta, kiriman sang ayah. ”Jujur, ini merupakan kiriman uang terbesar selama ini dari sang ayah” ujar Wamoi.

Namun apalah daya, ternyata uang tiga juta hanya cukup sampai tahap registrasi saja. Wamoi pun kecewa. sempat putus asa. Tak tau lagi harus bagaimana.

Hingga suatu malam, Wamoi sempat menangis, sembari berdo’a. Mengadukan semua padaNya. Tentang Tholabul ‘Ilmi yang menjadi landasan hijrahnya. Tentang niatnya tulusnya, untuk membangun kampung halamannya. Tentang niatnya merubah stigma negatif, terkait orang-orang Papua.“Ya Allah kini hanya niat baik yang saya punya. Jika niatku ini tak Kau berikan jalan, semua akan menjadi sia-sia. Bukakan jalan Mu ya Allah”. Doa Wamo lirih

Seakan doa nya diijabah, tiba-tiba esoknya abang nya yang di MUI Kabupaten Kaimana menelponnya. Memberitahukan perihal beasiswa Bidik Misi kementrian Agama, untuk anak-anak Papua. Bahkan abangnya segera meminta Wamoi menemui salah satu koleganya.

Singkat cerita, tahun 2014 Wamoi pun menjadi salah satu kandidat penerima Beasiswa. Ada lima UIN, yang ditawarkan ke Wamoi dan anak-anak Papua penerima Bidik Misi lainnya. UIN Makasar, UIN Badung, UIN Malang, UIN Riau, UIN Jakarta dan UIN Jogja.

Namun Wamoi mantap memilih UIN Suska Riau sebagai pelabuhannya. Pilihan yang berbeda diantara teman-temannya. Ada banyak misi di pundaknya. Disamping hijrah Thalabul ‘Ilmi, juga mengubah stigma menyulam asa. Yang kini juga menjadi “Tagline” nya dalam berdakwah.

Bersama lembaga traning dakwah dan motivasi, ia aktif berdakwah dan memberikan motivasi. Mendatangi  berbagai pelosok di Sumatera. Sambil terus memperbaiki diri, melawan stigma negatif yang melekat pada orang Papua.

Kini Wamoi pun memasuki semester sepuluh. Disamping aktif di HMI, bersama teman-temannya ia juga berjihad dalam bebrantas kebodohan. Salah satunya dengan meningkatkan minat baca, melalui literasi baca. Ada banyak buku-buku penting yang jadi koleksi, dan dikumpulkannya.

Menurut Wamoi, membaca itu penting bagi setiap orang. “Membaca esai, penting untuk melatih nalar. membaca novel dan karya sastra lainnya, penting untuk merawat imajinasi kita. Sedangkan membaca realitas sosial, penting untuk melatih kepekaan sosial kita”. Ungkap Wamoi menutup pembicaraan. ***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDIK UIN Suska Riau.

Please follow and like us:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan