Ketika Tuhan menyapa

 

Hari itu, saya terbawa perasaan Jumawa. Bahkan bisa jadi agak sedikit Pongah.

Mengikat Hikmah – Pasalnya, bermula saat bertemu, ngopi bareng dengan teman-teman sesama komunitas sepeda. Salah satu dari mereka, menceritakan ketangguhan-ketangguhan para pengayuh sepeda yang pernah ditemuinya. Yang dinilainya punya kekuatan kaki dan dengkul luar biasa. Salah satunya, ehm.. termasuklah saya.

Bahkan dalam kekuatan kaki, teman saya ini ternyata mengaku punya track record tersendiri tentang saya. Tak hanya dalam hal bersepeda. Seorang agen angkutan kota, pernah bercerita padanya. Ketika “Zaman Jahilyah” dulu, pernah telibat perkelahian dengan saya. Dalam perkelahian itu, sang Agen mengaku sempat merasakan tendangan saya. Membuatnya beberapa kali terjerembab ketanah. Hingga akhirnya membuatnya malah akrab, dan mengenali saya.

Meski saat itu saya berusaha menampiknya, dengan mengatakan teman saya itu hanyalah menyanyah. Tapi ternyata pujiannya membuat hidung saya mengembang juga. Bahkan, saya pun sempat merasa seakan melayang di udara. Saking jumawanya. Saking pongahnya.

Hingga esoknya Ahad (3/3/2019), dipekan pertama bulan tiga. komunitas sepeda saya lainnya dapat undangan acara sepeda santai bersama. Dimana acaranya di gelar di Kota Bangkinang, tepatnya di Taman Kota.

Untuk menuju kesana, disepakati para peserta akan loading ke tempat acara. Diangkut menggunakan mobil pick up bersama masing-masing sepeda mereka. Namun entah mengapa, subuh pas mau berangkat kesana, beberapa teman ada yang nyeletuk. Masak dari Teratak Rumbio Jaya, dengan jarak hanya sekitar 20 km, harus pakai loading pick up segala. Cemen kalilah.

Beberapa teman lainnya, bereaksi seketika. Jaga gengsi icak-icaknya. Tak ikut loading, melainkan bersepeda langsung ke tempat acara. Tentu saja saya pun tak mau kalah. Saatnya membuktikan Goweser sejati nan perkasa. Ha..ha..ha..

Mungkin pengaruh cerita pas ngopi sebelumnya, membuat saya masih merasa Pongah dan Jumawa. Subuh itu kata teman-teman, saya menggowes sepeda seperti kesetanan saja. Tak seperti biasa. Melesat sekencang-kencangnya.

Namun belum sampai satu kilo meter bersepeda, tiba-tiba saya melihat ada yang tak biasa. Ketika di depan, melihat dua anak remaja juga melaju kencang mengayuh sepeda. Entah mengapa, seakan tak peduli dengan arah sepedanya. Kadang melebar, kemana-mana. Melihat itu, bukannya saya melambat, malah terpancing untuk overtaking mereka.

Pas dipenurunan, saya berhasil mendahului salah satu dari mereka. Tapi yang satu lagi, seperti tak mau mengalah. Semakin saya bunyikan lonceng, semakin agresif saja. Malah mengambil jalan di tengah. Puncaknya, saat jarak makin dekat, remaja ini seperti sengaja tiba-tiba berbalik arah. Dan, braaak.. meski berusaha menghindar sekuat tenaga, tabrakan tak bisa dielakkan juga.

Saya pun terhempas ke aspal. Berusaha menopang dengan lutut dan tangan, agar tak terkena muka. Menyebabkan kostum bagian lutut dan siku koyak semua. Disertai luka-luka yang mulai berdarah. Akibat gesekan aspal jalan raya.

Ketika berusaha bangkit, saya merasakan sakit dibagaian lutut yang luar biasa. Namun rasa pongah, membuat saya pura-pura baik-baik saja. Bahkan sempat tetap ingin melanjutkan perjalanan ke tempat acara. Akhirnya, karena rasa sakit dibagian lulut yang kian terasa, membuat saya terpaksa menyerah. hanya sampai di pasar Air Tiris, saya pun balik arah kembali kerumah.

Ketika mengobati luka-luka, saya sempat ketiduran. Begitu bangun, kaki kanan terasa tak bisa digerakkan. badan pun terasa agak demam. Jangankan untuk berjalan, bangkit dari tempat tidur saja, tak bisa tanpa pertolongan.

Akhirnya terpaksa dibawa ke tukang urut, untuk menjalani pengobatan. Ternyata tempurung lutut saya, katanya mengalami pergeseran. Yang biasanya, butuh waktu lama untuk penyembuhan. Kini, setelah lebih tiga pekan, rasa sakit dan nyeri pun masih kerap saya rasakan. Bahkan beberapa hari, harus ditopang tongkat untuk berjalan.

Meski keadaan ini terasa sangat menjengkelkan, setidaknya ini mungkin sebuah pelajaran dari Tuhan. Yang telah menyapa kepongahan saya melalui tabrakan.

Jangankan saya, tokoh sekaliber Romahurmuziy pun tak berdaya dalam sapaan Tuhan. Melalui tangan KPK, dalam operasi tangkap tangan. Dalam suguhan peristiwa yang baru-baru ini cukup menggemparkan. Terkait kasus jual beli jabatan.

Dalam sekejap saja, Rommy yang begitu perkasa dalam lingkaran kekuasaan, berubah jadi pesakitan. Tanpa bisa meralat kehendak Tuhan.

Apa yang mesti disombongkan. Kekuatan dan ketangguhan kita, hanyalah kekuatan semu, yang tergantung kehendak Tuhan. Dalam sekejap saja, bisa Ia hilangkan.

Sedangkan saya, jangankan besepeda menaklukkan tanjakan. Menggowes di jalan datar pun, kini tak bisa saya lakukan. Bahkan, untuk shalat dan ups.. Maaf  Buang Air Besar (BAB) saja, saya begitu kesulitan. Penuh perjuangan. Apa yang mesti disombongkan?.***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi UIN Suska Riau

Please follow and like us:

1 Komentar

Tinggalkan Balasan