Tunanetra Menjaga Wasiat Ayah

Hari itu saya tak berdaya. Menolak naluri jurnalistik dalam diri saya. Ketika melihat seorang Tunanetra. Berjalan menggunakan tongkat, dengan aneka kerupuk menggelayut di bahunya. Naluri itu seakan menggebu. Ingin mencari tahu sosok lelaki itu. Sampai tak peduli jadwal mengajar yang sudah mepet, siang itu.

Seketika itu juga saya singgah. Membeli salah satu kerupuk, yang dijual Rp. 20 ribu per bungkus itu. Padahal sejatinya, saya sudah mesti di lokal sesuai jadwal siang itu. Memberikan kuliah “Pengantar Jurnalistik”, Pada lokal Komunikasi G semester dua. Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Suska Riau.

Mengikat hikmah – Siang itu, Senin (18/3/2019). Panas begitu terik. Seorang lelaki paruh baya tampak agak  canggung melangkah. Dituntun sebatang tongkat besi, di tangan kanannya. Hampir diseluruh bahunya, tergantung aneka kerupuk. Dibungkus plastik, dengan ujung yang diikat tali rafia.

Panasnya matahari siang itu, seakan tak dipedulikannya. Meski dengan keringat yang mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia terus berjalan. Menyusuri jalan Buluh china. Melewati  gerbang Kampus UIN Suska Riau, Panam, Pekanbaru.

Ketika saya menghampirinya, ia pun menyambut dengan ramah. “Silahkan dipilih, dan langsung ditarik saja. Harganya, semuanya sama”, Ujarnya terkait kerupuk dagangannya. Ada kerupuk yang terbuat dari kentang, ubi dan kerpuk rasa ikan.

Semua mereknya sama. Yang dikelola dari usaha rumahan, yang beralamat di jalan Harapan Raya. Tempat ia sehari-hari bekerja. Sekaligus memasarkannya.

Begitu saya kasih uangnya, sejenak ia merabanya. “berarti pas dan tak perlu kembaliannya ya..?” ujarnya seakan begitu mengenal lembaran uang ditangannya. “kok bisa?” ternyata ini salah satu pelajaran dasar saat ia sekolah dulu. Saya pun akhirnya terlibat perbincangan panjang dengannya.

Haloan, begitu ia memperkenalkan dirinya. Umurnya kini memasuki 37 tahun. meski mengaku orang Batak, Sumatera Utara, tapi,.. eiiit tunggu dulu.. Ternyata Haloan sendiri lahir di Sumatera Barat. Tepatnya di Pasaman Barat. Hanya saja, kedua orang tuanya memang berasal dari Sumatera Utara. Kemudian merantau dan menetap di Pasaman Barat. “ Jadi walaupun orang Batak, tapi kampung saya di Pasaman Barat” ujarnya tertawa.

Terkait kondisinya sebagai Tunanetra, Haloan sejenak terdiam, sambil menghela napas panjang. Sebenarnya dulu saya terlahir bukan dalam keadaan Tunanetra. Ungkapnya membuka cerita. Awalnya ia bisa melihat, seperti anak-anak lainnya.

Hingga umurnya mencapai dua tahun, saat itulah petaka itu bermula. Berawal dari penyakit Campak yang dideritanya. Lama-kelamaan, mengalami komplikasi. Matanya seperti mengalami peradangan hingga memerah. Meski orang tuanya sudah berusaha mengobati kemana-mana, kondisinya justru makin parah. Matanya kemudian membengkak, yang membuatnya makin kehilangan penglihatannya. “Mungkin sudah menjadi ketetapan Tuhan pada saya. Kalau usaha, bahkan hingga umur saya 20 tahun orang tua masih berusaha mengobatinya. Berharap bisa mengembalikan lagi penglihatan saya. Namun belum ada hasilnya. Saya yakin inilah yang terbaik bagi saya”. ujar Haloan.

Meski Tunanetra, Haloan tak merasa rendah diri. Ketika seseorang punya kekurangan, pasti juga punya kelebihan. Ia juga punya prinsip tak mau menyusahkan. Apalagi menjadi beban. Makanya sejak remaja, ia aktif bersekolah. Mengasah berbagai ketrampilan, tak mau berdiam diri di rumah.

Hal itu dikarenakan wasiat ayahnya, sebelum meninggal 12 tahun lalu. Agar Haloan jangan pernah menjadi peminta-minta. “Pokoknya selagi mau berusaha, pasti ada rezeki”. ujarnya mengenang wasiat sang ayah.

Makanya berbagai keahlian pun coba dikuasainya. Termasuk di bidang musik. Bahkan dulu, bermain musik sempat menjadi salah satu pekerjaannya untuk memenuhi kebutuhan. Dengan menjadi pemain gendang bayaran, pada Band-band musik di kampungya.

Namun seiring perkembangan zaman, penampilan Band musik pun makin berkurang. Orang-orang cenderung lebih memilih orgen tunggal untuk mengisi acara musik di keramaian. Secara langsung berdampak pada berkurang job Haloan. Padahal dulu, sebagai pemain musik bayaran, ia bisa mengantongi rata-rata 200 ribu semalam.

Karena belakangan tak punya peghasilan tetap di kampung, tahun 2017 lalu Haloan memutuskan merantau ke Pekanbaru. Agar tak menjadi bebaban ibu.

Kebetulan ia bertemu teman lama, yang dulu pernah satu sekolah dengannya. Temannya itu juga Tunanetra. Sejak lima tahun belakangan, membuka usaha kerupuk di Pekanbaru bersama isterinya. Bersama merekalah Haloan bekerja dan tinggal. Di tempat usaha kerupuknya, di jalan Harapan raya.

Ada empat orang Tunanetra lainnya bekerja bersamanya. Tiap hari, mereka juga bertugas menjajakan kerupuk ke berbagai wilayah di Pekanbaru. Dalam sehari, Haloan bisa menghasilkan 100 ribu hingga 200 ribu.

Dari penghasilan itu, Haloan nekat melamar pujaan hatinya tujuh bulan lalu. Seorang gadis Tunanetra  asal Jambi, yang dikenalinya lewat handphone itu. Diboyongnya ke Pekanbaru. Dengan menyewa rumah sendiri, tak jauh dari tempat kerjanya itu.

Ketika diminta menceritakan awal perkenalannya, Haloan terlihat tersipu malu. Terdorong keinginan berumah tangga, di usianya yang telah melewati kepala tiga. Haloan iseng-iseng aktif mengotak atik telpon selulernya. Menekan nomor-nomor sembarangan saja. Tiap ada waktu senggang, selalu dilakukannya.

Jika yang ngangkatnya laki-laki segera ditutupnya. Namun jika yang mengangkatnya wanita, saat itulah ia melancarkan aksinya. Curhat tentang keadaannya. Menggombalnya dan ehm..merayunya. banyak yang mengacuhkannya. Ada juga yang menanggapinya. Salah satunya, isterinya. Sejak itulah ia selalu saling telpon. Layaknya insan dimabuk asmara.

Ketika ditanya keinginan dan harapannya, wajah Haloan pun berubah serius. Ia ingin suatu saat bisa membuka usaha kerupuk sendiri. Menjualnya sendiri. Ia juga ingin punya alat musik sendiri. Membuat group musik dan usaha rental alat  musik sendiri.

Diakhir perbincangan, Haloan pun berpesan. Untuk para anak muda, agar jangan mudah putus asa. Berjuanglah. Jangan mudah menyerah. tutupnya.***

Penulis: Suardi

PNS Dosen Prodi Komunikasi FDK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

2 Komentar

Tinggalkan Balasan