Pilih Pensiun Dini Hijrah ke Dunia Baru

Lahir dari keluarga sederhana dan menjadi yatim, Sudirman diboyong ke sebuah Panti asuhan di Bangkinang. Setamat MTS Mualimin, nekat ke tanah Jawa. Berhasil menjadi Dosen PNS di IAIN Syarif Hidayatullah (Syahid)  Jakarta. Masalah kesehatan, membuatnya kembali ke Riau. Melanjutkan pengabdian di UIN Suska Riau. Sempat menjabat Wakil Rektor (WR) III UIN Suska Riau. Kini memilih Pensiun Dini, demi mengelola bisnisnya. Dengan ribuan konsumen, dan omzet mencapai 800 juta hingga 1,2 Milyar per bulannya.

Mengikat Hikmah – Suasana ramai tampak di Loby Dekanat lantai dua, gedung Fakultas Dakwah dan Komunikasi  (FDK) UIN Suska Riau, Selasa (25/3/2019) lalu. Hari itu, digelar perpisahan kedinasan Drs. Sudirman, M.Ag. Salah seorang Dosen Fakultas Dakwah, yang juga mantan Wakil Dekan (WD) dan WR III, yang memilih pensiun dini terhitung 1 September 2018 lalu. Dalam usianya yang kini memasuki 53 tahun itu.

Disela-sela acara yang dikemas secara sederhana, dihadiri Dekan FDK, Dr Nurdin, MA dan Wakil Dekan, serta dosen dan pegawai dilingkungan FDK itu, saya pun berkesempatan berbincang dengan Sudiman. Mencoba menggali hikmah dari perjalanan hidupnya.

Sudirman lahir di sebuah perkampungan 53 tahun lalu. Di kecamatan Tambusai, dahulunya Kampar, yang kini masuk Kabupaten Rokan Hulu. Dari keluarga sederhana. Ditinggal pergi ayahnya, yang meninggal dunia.

Dalam kesulitan ekonomi keluarga, ia diajak tinggal di sebuah panti asuhan Yatim Putra Muhammadiyah. Sebuah panti asuhan yang berada di kota Bangkinang, jalan Mayor Ali Rasyid kota Bangkinang, Kabupaten Kampar. Keputusan itu diambil keluarga, agar Sudirman kecil tetap bisa melanjutkan pendidikannya di yayasan pendidikan Mualimin Muhammadiyah.

Namun saat berhasil menamatkan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTS), Sudirman malah memilih keputusan yang tak biasa. Terutama bagi anak kampung, teman-teman se usianya. Sudirman kecil memutuskan untuk merantau ke Jawa.

Syukur-syukur bisa melanjutkan pendidikan disana. Sesuai harapan dan wasiat mendiang ayahnya. Yang semasa hidupnya, ingin sekali Sudirman bisa menempuh pendidikan di Jawa. “mungkin karena melihat alumni-alumni lembaga pendidikan di Jawa, yang memiliki kedalaman ilmu dan menjadi orang-orang terkemuka” ujar Sudirman mengenangnya.

Meski belum jelas arah tujuannya, namun Sudirman kecil tetap nekat berangkat seorang diri ke Jawa. Sempat menggelandang di berbagai wilayah Jawa Timur. Akhirnya terdampar di wilayah Solo jawa Tengah.

Bertemu salah seorang ulama, KH Habib Maksum, yang juga pengurus Muhammadiyah. Diajak tinggal bersamanya. menjadi anak angkatnya. Membuat Sudirman kembali bisa bersekolah. Disana jugalah Sudirman menamatkan pendidikan SLTA nya.

Hingga suatu hari, ia diajak pengurus Muhammadiyah Solo, jalan-jalan ke Jakarta. Berkunjung dan bertemu para pengurus Muhammadiyah di Jakarta. Yang sebagian merupakan dosen-dosen IAIN Jakarta. Singkat cerita, Sudirman ditawari bekerja di Balai Keterampilan Muhammdiyah (BKM) Jakarta. Menjadi cleaning service (CS) disana.

Dua tahun bekerja sebagai CS, keinginan kuliah mulai menggebu. Kepada H. Suwito pimpinan BKM Jakarta saat itu, Sudirman memberanikan diri mengungkapkan keiginannya itu. Tentang impiannya, untuk bisa kuliah di IAIN Jakarta.

Kebetulan, H Suwito juga salah seorang dosen IAIN Jakarta. Belakangan Prof H Suwito, MA juga sempat menjabat sebagai WR I dan Assisten Direktur Pasca Sarjana yang kini menjadi UIN Jakarta.

Tahun 1988, Sudirman resmi menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Syahid Jakarta. Sambil tetap menjalani pekerjaan sebagai CS di BKM Jakarta. Berjuang memenuhi kebutuhan hidup dan biaya kuliah. Bekerja sebagai CS dan penjual koranpun dilakoninya di Jakarta.

Namun hebatnya, tak sampai empat tahun, Sudirman malah berhasil menyelesaikan studinya. Dengan prediket alumni terbaik di IAIN Jakarta.

Prediket ini ternyata membawa berkah tersendiri baginya. Bersama alumni terbaik lainnya, mereka ditawari menjadi KUA di kementrian Agama. Atau mengabdi sebagai dosen di almaternya. Sudirman pun  mantap memilih sebagai dosen tetap di IAIN Syahid Jakarta. Sebagai jalan hidup menapaki masa depannya. Sembari memutuskan mengakhiri masa lajangnya.

Tahun 1994, Sudirman resmi diangkat sebagai abdi negara .PNS -Red. sambil juga menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Dalam perjalanan karirnya, ia juga sempat menjadi Sekretaris Jurusan dan Plt Ketua Jurusan PMI Fakultas Dakwah IAIN Jakarta. Sementara itu, di UMJ, Sudirman juga sempat menjabat sebagai Wakil Dekan III, terkahir Wakil Dekan II.

Kerasnya kehidupan di Ibu kota, membuatnya tertantang. Berjuang memperbaiki kehidupannya. Dengan kerja keras, mengajar kemana-mana. Diberbagai perguruan tinggi di Jakarta. Memforsir tenaga dan pikiran, tanpa kenal lelah. Demi masa depan keluarga dan anak-anaknya yang lebih cerah. Tak peduli kesehatannya. Pergi pagi, pulang malam pun dilakoninya. Hingga jatuh sakit, akibat pola hidup tak menentu yang dijalaninya.

Sudirman pun harus menjalani pengobatan serius, yang membutuhkan banyak biaya. Bahkan tak jarang harus meminjam, demi menutupi biaya pengobatan medis rutin yang harus dijalaninya. Ia sempat drop dan pasrah. Ditengah kesulitan ekonomi yang semakin membelitnya. Yang mengharuskannya istirahat total, tak boleh melakukan aktivitas seperti biasa.

Atas permintaan keluarga, tahun 2003 Sudirman akhirnya memutuskan pulang ke Riau. Pindah tugas ke UIN Suska Riau. Memulai lagi dari nol.

Namun tak lantas membuatnya putus asa. Disamping pengobatan medis, ia mulai mencoba pengobatan herbal. Sudirman perlahan mulai merasakan kemajuan. Meski produk-produk  pengobatan herbal itu juga tergolong mahal. Ia pun mulai mengatur pola hidup sehat, sesuai anjuran penggunaan prodak herbal.

Karena harganya yang mahal, Sudirman pun cari akal. Disamping pengguna, ia pun mulai menjadi penjual.  Menawarkan ke teman-teman dekat, bekembang, hingga menghimpun orang-orang secara massal.

Ibarat kapal, pelayaran yang dulu sempat kandas, perlahan kembali berlayar. Karir PNS Dosennya pun mulai lancar. Berbagai jabatan strategis sempat didudukinya. Mulai dari tingkat Fakultas, sampai Universitas. Tahun 2005, Sudirman sempat menjabat WD III dan WD II. Puncaknya ditingkat Universitas, tahun 2009 Sudirman menjabat WR III UIN Suska Riau. Meski tak sampai dua tahun, Sudirman memilih mundur.

Ia pun mulai kembali menekuni bisnisnya. Tahun 2013, mengajukan pesiun dini. Namun rektor UIN Suska Riau pada masa itu, Prof. Dr H M Nazir banyak memberikan masukan-masukan padanya. Semasa rektor Prof Dr Munzir Hitami, MA dan Dekan FDK Dr Yasril Yazid, MIS,  keinginan pesiun dini kembali diutarakannya. “Saat itu saya mendapat masukan-masukan berharga, sambil menjajaki pra pensiun. Saya berterimkasih atas kearifan Prof Nazir, Prof Munzir dan Dr Yasril Yazid.” ujar Sudirman. Begitu juga para mahasiswa dan para koleganya serta para aktivis di kampus. “Mereka banyak menginspirasi, memberi pelajaran menggembleng saya, hingga saya bisa memastikan langkah saya” tambah Sudirman

Akhirnya, dimasa rektor Prof Dr KH Akhmad Mujahidin, MA, keinganan pensiun dini Sudirman pun dikabulkan. Terhitung 1 September 2008. Sesuai ketentuan Undang-undang. Dalam usianya yang memasuki 53 tahun.

Tercatat, Sudirman mengabdi sebagai Dosen  PNS, selama 24 tahun. selama 11 tahun di UIN Syahid Jakarta dan 14 tahun di UIN Suska Riau.

Bagi Sudirman, pensiun dini hanyalah sekedar hijrah status.”Hijrah dari status PNS ke pengusaha Nutrisi Seluler masih PNS juga” ujarnya tertawa. Tapi tujuannya sama. Mencerdaskan bangsa.

Karena bisnis yang dijalaninya, tak hanya bicara keuntungan dalam bentuk uang semata.  Melainkan tak lepas dari upaya membimbing dan memberikan pencerahan. Hanya saja, konteksnya kini mungkin lebih luas. Juga lebih kompleks, dengan lebih kepada  praktek.

Dimana ia kini membawahi 40 outlet penjualan nutrisi herbal di 10 propinsi. Dengan ribuan customer. Para customer ini kemudian dibina. Agar tak hanya menjadi pengguna produk semata. Melainkan juga bisa memasarkannya. “Bagaiamana seorang customer bisa menjadi  Owner”. Ujar Sudirman

Hal itu sesuai dengan kebijkan perusahaan. Dimana perusahaan memberikan wadah untuk melakukan Training of Trainer (TOT). Menjadi trainer profesional yang dibiayai perusahaan. Untuk mempertajam skil-skil di bidang bisnis. Makanya disamping menjual produk, Sudirman membuat kelas-kelas bisinis, bersama mentor-mentor baik propinsi maupun nasional. Belajar pada para pelaku bisnis. “Jadi, dikampus bagaimana mereka lulus dengan kompetensi baik. Diluar juga bagaimana mereka lulus dan menghasilkan pulus” ujar Sudirman.

Sejatinya sesuai undang-undang, Sudirman masih memliki 12 tahun masa kerja. Dimana, dengan pangkat terakhir yang sudah IV/a. Ia pun mengakui , sebenarnya bisa punya banyak waktu luang dengan mengkat asisten. Sambil terus menjalankan bisnisnya.

Namun setidaknya, Sudirman mengaku ingin menunjujkkan kalau ingin melakukan sesuatu. Harus punya keberanian. Jangan setengah-setengah. Allah pasti bersama kita. Ketika keputusan itu dilandasi nawaitu spritualitas manfaat yang lebih luas.

Bagi Sudirman, UIN Suska Riau merupakan rumahnya. Akan tetap jadi rumahnya sampai kapanpun. Dimana UIN Suska Riau, sudah mulai terbukti melahirkan multi talenta yang luar biasa. UIN Suska Riau, juga merupakan aset bangsa dan aset umat. Untuk itu mari sama-sama kita jaga.

Diakhir perbincangan Sudirman berpesan, ujian merupakan hal yang biasa. Seandainya ia tak diuji, ia tak akan seperti sekarang ini. Allah pasti punya maksud, menaikkan strata kita. Hadapilah dengan sabar dan  lapang dada.***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan