Kebenaran dan Keinginan

Mengikat Hikmah – Menulis tentang ini, mungkin belumlah kapasitas saya. Pasalnya, saya menyadari sepenuhnya. Sebagai peribadi yang terkadang masih banyak salah, ketimbang benarnya.

Tapi entah mengapa, kali ini saya begitu ingin menulisnya. Setidaknya sebagai renungan kita bersama. Siapa tau, melalui ini; akan banyak masukan-masukan berharga. Akan muncul wacana-wacana tentang kebenaran yang bermanfaat bagi kita bersama. Kebenaran yang sesungguhnya.

Lha, memang ada kebenaran yang tak sesungguhnya?. Entahlah. Tapi betapa banyak kita kadang disuguhkan kebenaran, yang sekejap mata bisa saja berubah-ubah. Hari ini benar, besok berubah menjadi salah. Hari ini berkata dan bersikap, inilah yang paling benar. Besok malah berubah sebaliknya.

Tak hanya dikalangan awam. Tapi juga dikalangan sekaliber tokoh, yang jadi panutan. Bahkan malah negarawan.

Maka jangan heran, fenomena yang dipertontonkan ini bisa saja berujung pada kekhwatiran. Kekhawatiran munculnya generasi-generasi yang pesimis dan sisnis akan kebenaran. Bahkan kebenaran dijadikan “permainan”.

Boleh jadi, ini sebuah gejala. Seperti beberapa waktu yang lalu. Ketika soal kebenaran, menjadi diskusi hangat di lokal saya. Dalam mata kuliah pengantar jurnalistik, prodi Komunikasi semester dua. Saat membahas sembilan prinsip jurnalistik. Dimana, kewajiban pada kebenaran, menjadi prinsip utama.

Tiba-tiba saja, seorang mahasiswa menyela. Ditengah kondisi saat ini, masihkah kebenaran menjadi prinsip utama?. Ungkapnya bernada sinis. Kebenaran hanyalah tinggal teori belaka. Lihatlah kebenaran yang disuguhkan para Jurnalis hari ini, hanyalah kebenaran versi penguasa dan pemilik modal saja. Ungkapnya, yang seakan-akan diamini teman-teman lainnya.

Pembicaraan perihal kebenaran ini pun meluas sampai kemana-kemana. Politik, hukum, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.

Menurut mereka, kebenaran yang mengemuka saat ini hanya sekedar retorika. Basa-basi, dan pemanis bibir belaka. demi kepentingan pribadi dan golongan belaka. Bagi orang biasa, kebenaran sudah menjadi “barang” langka. Tak usah terlalu berharap kehadirannya. Begitu pendapat yang mengemuka dikalangan mahasiswa di lokal saya.

Akhirnya, sampai juga giliran saya yang diminta untuk menjabarkannya. Agar terlihat lebih bijak icak-icak nya, saya pun bertanya tentang kebenaran itu apa?. Kebenaran sesuatu yang sesuai dengan semestinya. Begitu rata-rata jawaban mereka. Apa iya? Tanya saya meyakinkan mereka. Atau malah kebenaran itu, bila sesuai dengan keinginan anda?

Begini saja. Kalau di lokal ini, saya kasih semua nilai A sudah benarkah? Ungkap saya menanya. Mereka pun terdiam dan saling memandang dan tertawa. Tapi kalau salah, bagaimana kalau saya kasih E semua. Ya janganlah pak? Protes mereka serentak.

Kadang begitulah kita. Buru-buru menilai salah, padahal karena tak sesuai keinginan kita. Kebenaran itu juga belum tentu langka. Karena dalam persfektif Islam justru kebenaran itu merupakan fitrah kita sebagai manusia. Buktinya, sejahat-jahatnya manusia, pasti tak ingin anaknya salah langkah. Bahkan ingin anaknya jadi ulama.

Persoalannya, pertarungan nafsu kadang membuat kita kalah. Pada gilirannya membawa kita salah. Menjadikan mata hati kita buta. Jadilah kebenaran hanya teori belaka. yang sesuai keinginan kita.

Dalam filsafat ilmu komunikasi, Kebenaran adalah persesuaian antara pengetahuan dan objek. Bisa juga diartikan suatu pendapat atau perbuatan seseorang yang sesuai dengan orang lain dan tidak merugikan. (Vardiansyah, Dani. Filsafat Ilmu Komunikasi: Jakarta 2018). Kebenaran lawan dari kesalahan yang merupakan objek dan pengetahuan tidak sesuai.

Berdasarkan tingkatannya, kebenaran dapat dibagi menjadi empat bagian. Pertama, kebenaran inderawi. Merupakan tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia. Paling banyak penganutnya.

Ukurannya lebih kepada panca indera dan materi belaka. Dalam kebenaran inderawi, Menilai orang kaya; lihatlah penampilannya. Bagaimana kenderannya. Bagaimana rumahnya. Dengarkan bualannya. Menilai dan memilih orang baik; lebih didasari sejauh mana ia bisa memberikan keuntungan materi bagi kita.

Tentu saja hal ini bisa salah.

Tapi anehnya, justru banyak masyarakat kita, yang masih terjebak pada sebatas kebenaran Inderawi. Terang saja. Konon ada pihak-pihak tertentu, yang sengaja memupuk dan memeliharanya”. Karena masyarakat yang cenderung pada kebenaran ini, mudah dipengaruhi. Mudah percaya tipu daya. Sasaran empuk  pencitraan. Makanya dibiarkan. Bahkan disesatkan.

Solusinya, melangkahlah pada tingkat kebenaran kedua. Kebenaran ilmiah. Tak hanya sekedar mengacu pada indera. Kebenaran ilmiah diperoleh melalui kegiatan yang sistematik, logis, dan etis. Ukurannya akal, pengetahuan, penelitian dan logika.

Dalam kebenaran ilmiah, mengetahui seorang pengusaha kaya tak cukup dari penampilannya. Harta benda yang melekat padanya. Karena dalam rumus ekonomi; “Bila tabungan lebih rendah dari investasi neraca perdagangan pasti defisit. Defisit neraca perdagangan pada dasarnya adalah utang” (Dahlan Iskan; 5/6/2019). Orang yang lebih banyak utang, tentu tidak kaya. Ups, kok saya seperti ekonom pula ya?.

Alaah utang itu biasa. Negara seperti Amerika aja punya utang yang luar biasa. Tetap maju dan baik-baik saja.

Disitulah perlunya tingkat kebenaran ketiga. Kebenaran filsafat. Kebenaran yang diperoleh melalui renungan mendalam untuk mengolah kebenaran itu lebih tinggi nilainya. Dalam hal ini Dahlan Iskan pun mengemukakan.

Amerika sebenarnya mengalami apa yang disebut devisit ganda. Neraca perdagangannya defisit. Anggaran belanja negaranya juga defisit.

Jangan ditiru.

Amerika baik-baik saja dalam kondisi seperti itu. Negara miskin tidak boleh mengikutinya.

Amerika mampu berbuat ‘parah’ seperti itu karena asetnya sudah besar, namanya harum, reputasinya baik. Intinya: Amerika bisa dipercaya. Selalu ngutang pun masih tetap dipercaya! Berapa pun besarnya. Semurah apa pun bunganya.

Jadi kebenaran hanya sampai disitu? Tentu tidak. Masih ada kebenaran lebih tinggi. Setidak bagi orang-orang beragama. Kebenaran yang keempat ini, dinamakan kebenaran religi. Kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa. Dihayati oleh kepribadian dengan integritas, yang dibungkus iman dan kepercayaan.

Bagi kita umat Islam, kebenaran ini tak mungkin salah.  Karena bersumber dari yang Maha benar. Hanya saja akal kita, waktu dan keadaan, terkadang belum mampu menyingkapnya.

Dulu masa idah 40 hari, sempat di cemooh dan dibuli. Bagi isteri yang ditinggal suami. Namun ilmu kedokteran kemudian membuktikan. Lewat penelitian masa pertumbuhan janin. Ternyata masa 40 hari diperlukan bagi janin, tuk menjadi cikal bakal manusia. Masa idah diperlukan untuk mengetahui siapa ayahnya.

Kebenaran religi menjadi salah; ketika digunakan menurut keinginan, kehendak dan nafsu kita.

Kembali pada Jurnalis, yang katanya tak lagi memihak kebenaran. Apa iya?.. buktinya banyak tayangan-tayangan yang tak benar. Dalih mahasiswa dilokal saya.

Sekarang saya tanya; anda sebagai pemirsa lebih suka yang mana? jangan-jangan justeru kita yang tak menyukai dan mencintai kebenaran. Lalu mengedepankan keinginan. Kalau tayangan itu tak benar, ya jangan ditonton atau dibacalah. Pasti tak akan lagi ditayangkan. Itu aja kok repot.ha..ha..

Lalu sudah benarkan pertemuan 01 dan 02? Tiba-tiba saja saya ditanya di sebuah kedai kopi. Maka lahirlah tulisan ini.***

Penulis: Suardi, M.I.Kom

PNS dan mengajar di Prodi Komunikasi, FDK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan