Ketika Alumni UIN Suska Riau Tembus Perusahaan Raksasa Dunia

Mengikat Hikmah –  Masih viral dan Jadi perbincangkan di dunia maya. Ketika pemilik akun yang mengaku lulusan baru (fresh graduate) Perguruan Tinggi (PT) terkemuka di Indonesia mengaku kecewa. Pasalnya, saat wawancara kerja, ia ditawari gaji Rp 8 juta. Yang menurutnya rendah. Ia juga tak ingin disamakan dengan lulusan PT lainnya di Indonesia. Level kami bukan perusahaan lokal. Tapi perusahaan luar. Begitu lanjutan kalimat yang diunggah kira-kira.

Mungkin anda sama dengan saya. Salah seorang yang sempat kesal dibuatnya. Kok begitu pongahnya.

Untunglah rasa saya, tiba-tiba berubah. Menjadi rasa bangga yang kian “membuncah”.  Ketika membaca status Face book  (FB) salah satu kolega saya. Kunaifi, ST,PgDipEnSt, sesama dosen UIN Suska Riau. Kini tengah menempuh pendidikan S3  di Belanda.

Di laman FB nya, Kunaifi menceritakan tentang sosok Fidel Castro. Salah seorang alumni Teknik Elektro UIN Suska Riau. Yang dulu merupakan anak didiknya. Mampu menembus perusahaan-perusahaan raksasa dunia.

Tentu saja, pencapaian ini tidak mudah. Fidel Castro terpilih, setelah berhasil menyisihkan para pesaingnya. Kebanyakan berasal dari universitas-universitas terkemuka di Indonesia. Bahkan, banyak diantaranya lulusan luar negeri. Dari unversitas-universitas luar ternama.

Tapi Fidel Castro  tidaklah pongah. Ia berbeda. Kisah dan kerendahan hatinya malah bikin bangga. terlebih bagi saya,  keluarga besar UIN Suska Riau. Mungkin juga bagi kementrian agama. Karena sebagai alumni PT Agama di daerah, pun mampu mematahkan status yang sedang viral itu.

Tiga tahun lalu, Fidel diterima di perusahaan asal Belanda. Contained Energy  yang  bergerak dibidang energi terbarukan. Terbesar di Indonesia. Kantor perwakilannya ada di Jakarta, Bali dan Surabaya.

Fidel ditempatkan di Bali. Dengan gaji yang wah, ditambah berbagai fasilitas yang melekat padanya. Dengan standar perusahaan besar luar negeri  tentunya.

Menariknya Fidel Castro diterima bekerja disana, Justru sebelum ia menamatkan pendidikannya. Pada Teknik Elektro UIN Suska Riau.  Ia sempat bekerja selama satu setegah tahun disana. Sebelum memutuskan pindah. Pindah di perusahaan lokal, bergerak di bidang yang sama. Demi pengalaman dan pengembangan dirinya. Walau dengan gaji lebih rendah.

Bukan hanya itu. Berdasarkan cerita Kunaifi, saat di Jakarta Fidel banyak membantu adek-adeknya. Membangun  sebuah basecamp di Jakarta. Dengan mengontrak rumah untuk menampung adik-adik kelasnya yang merantau ke Jakarta mengadu nasib. Tak hanya gratis, mereka dibimbing dan dilatih untuk berjuang.

Tak kurang 15 orang alumni TE, bahkan jurusan lain di FST memulai karirnya dari basecamp tersebut. Menurut pengakuaan seorang pengurus asosiasi PLTS Indonesia, mungkin lebih 60% proyek energi surya di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan adalah karya alumni FST UIN Suska Riau

Saat tulisan ini diturunkan, Fidel tengah berada di Fukuoka, Jepang. Menjalani pekerjaan barunya di Shizen Energy. Lagi-lagi perusahaan raksas kelas dunia. Bergerak dibilang yang sama.  Nomor dua terbesar di negeri Sakura.

Untuk mengetahui cerita langsung darinya, kepada Kunaifi saya minta dihubungkan langsung dengan Fidel Castro. Mantan mahasiswanya itu. Saat dihubungi, Fidel tak membalasnya. Terang saja, ternyata di Jepang saat itu pukul dua pagi. Beda waktu dua jam dengan Indonesia. Barulah esoknya, ia meresponnya.

Saya pun seperti anak kecil yang mengharapkan hadiah. Demi menanti cerita-cerita menarik darinya. Dari awal sampai akhirnya.

Alumni UIN Suska Riau kok bisa menjejali pekerjaan diperusahaan-perusahaan ternama kelas dunia?. Bagaimana latar belakang keluarganya?  Apa yang membuat ia istimewa? Bagaimana ia menjalani pendidikannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain di kepala yang terus “membuncah”.

Namun,  Jawaban Fidel Castro datar saja. Tak sedikitpun membangga-banggakan dirinya.  Ia mengaku biasa saja. Dari keluarga sangat sederhana. Ayahnya Muhammad Shaleh. Seorang tukang instalasi pipa air. Dan ibu Desmalinda, ibu rumah tangga.

Fidel Castro merupakan anak bungsu dari dua besaudara. Lahir di Padang 30 Oktober 1994 silam. Abangnya bernama Fablo Emelio Escobar. Sempat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di Padang hingga kelas satu. Sampai akhirnya keluarganya kemudian momboyongnya pindah ke Pekanbaru.

Ketika ditanya mengapa ayahnya memberi nama mereka orang-orang terkenal dunia. Fidel Castro sendiri misalnya; merupakan mantan presiden kuba. Bahkan Fablo Emelio Escobar merupakan nama gembong besar narkoba dunia dari Kolombia. Yang pada zamannya diperkirakan memasok 80 persen kokain ke Amerika.

Fidel Castro sempat terbahak menggapi hal itu. Ia pun mengaku tak tahu mengapa ayahnya dulu memberikan nama-nama itu. Tapi yang pasti, nama itu membawa keberuntugan bagi saya, ungkapnya. Berkat nama itu, ia jadi mudah diingat. Terutama oleh orang-orang luar negeri. Bahkan oleh bosnya sendiri.

Lalu bagaimana pula pendidikannya? Lagi-lagi Fidel menjawab biasa saja. “Tak ada yang istimewa. Banyak sebenarnya alumni UIN Suska Riau, yang lebih bagus dan hebat dari saya” ujarnya merendah.

Sejak SMK, Fidel Castro mengaku hanyalah sosok pendiam. Tidak aktif. Bahkan tak pernah ikut organisasi di sekolahnya. Begitu juga hingga bangku kuliah.

Namun suatu hal yang berbeda. Fidel Castro mengaku menjalani apa yang dilakukannya dengan cinta. Inilah kunci utamanya. Sebelumnya, penulis juga sempat membaca status terakhir di laman FB nya. Berisi ungkapan-ungkapan  yang luar biasa. Diantara kalimatnya, Cintai apa yang kamu lakukan, taruh hatimu disana.

Fidel pun bercerita,  diawal-awal kuliah begitu cinta dan terpana pada kemampuan bicara.

Itu bermula ketika tiba-tiba disuruh salah seorang dosennya menyampaikan persentasi. Membuatnya sempat  menggigil dan grogi. “dulu jika bicara di depan orang-orang, saya minder dan tak percaya diri,” ungkap Fidel. Bahkan menjadi momok menakutkan bagi saya”, tambahnya.

Tapi ia tak menghindarinya. Malah inilah yang mendorongnya mencintai kemampuan bicara. Sampai-sampaI Fidel memutuskan bergabung dengan komunitas stand up comedy. Yang kemudian menjadi pengalaman pertama kalinya ikut organisasi diawal-awal kuliah.

Menurut Fidel,  bergabung di stand up comedy  sengaja dipilih, karena punya tantangan tersendiri. Disamping bicara didepan orang-orang, ia juga harus lucu. Disitulah ia terus melatih diri. Hingga akhirya bisa tampil dengan percaya diri.

Demi merawat kecintaan pada kemampuan bicara jugalah, Fidel sempat bergabung dengan radio komunitas “Suska FM” di FDK UIN Suska Riau. Sempat menjadi penyiar selama satu tahun. kemudian harus keluar karena telah memasuki semester tujuh. “Karena begitu regulasinya” papar Fidel

Namun ia tak berhenti disitu. Cinta kemampun bicara, ternyata terlanjur melekat di hatinya. Mendorongnya ikut komunitas gerakan “UIN Suska mengajar”.Disitulah yang menumbuhkan bibit cinta lain dihatinya. Terutama bidang konsentrasi keahliannya pada energi terbarukan.

Di UIN Suska mengajar, Fidel ditempa pada kepedulian-kepedulian sosial dengan berbagi. Berpikir jauh kedepan, dengan moto “langkah kecil untuk perubahan besar”.

Disaat mahasiswa-mahasiswa lain asyik menikmati libur kuliah, Fidel tidak. Ia bersama anggota Komunitas UIN Suska mengajar, justeru masuk ke daerah-daerah pedalaman. Demi menumbuhkan semangat belajar pada anak-anak pedalaman di berbagai wilayah Riau.Komunitas ini punya desa-desa binaan. Diberbagai wilayah terpencil di Riau.

Tahun 2016, Fidel sempat menjabat sebagai ketua umum Gerakan UIN Suska Mengajar. Saat itu ia membentuk UIN Suska Careday untuk menunjang gerakan UIN Suska mengajar.

Lewat  UIN Suska Careday, mereka menjalankan program yang dinamakan OMOT (one month one thousand). Dimana mereka rutin ke lokal-lokal, mengumpulkan seribu rupiah per bulan dari para mahasiswa UIN Suska Riau. Uangnya digunakan untuk membantu anak-anak pedalaman melanjutkan pendidikan. Juga membangun fasilitas-fasiltas pendidikan di wilayah-wilayah terpencil.

Diantara programnya, masih berjalan hingga saat ini. Kini berbentuk pembangunan pesantren di desa Rantau Langsat  Rengat Rohil, Riau. Yang diasuh para anggota komunitas UIN Suska Mengajar yang tergabung dalam pengurusan diberi nama Muara.

Dari gerakan ini juga Fidel mulai menyadari dan mencintai Teknik Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Yang notabene sebenarnya merupakan bidang kajian keahliannya.

Bermula  ketika tengah berada di pedalaman. Masyarakat menceritakan pernah mendapat bantuan perangkat PLTS. Pernah membari manfaat besar bagi rakyat sekitar.  Berbagai perangkatnya masih disimpan. Namun alat itu, tak berfungsi lagi.

Terang saja. Sebagai satu-satunya mahasiwa Teknik Elektro di rombongan itu, Fidel kena batunya. Ketika masyarakat mempercayakan sepenuhnya kepada Fidel untuk memperbaiki.

Celakanya walau itu bidang kajiannya, namun ternyata Fidel tak pernah serius mendalami. Hanya tau teori, namun tak pernah mengafilkasikannya. Merasa tertantang, Fidel pun menyanggupi untuk memperbaiki.

Sejak itu, hari-harinya dihabiskan untuk memperbaiki. Menekuni sepenuh hati. Mencintai sepenuh hati. Hasilnya menggembirakan. Fidel berhasil memperbaiki. Meski harus memakan waktu ekstra lama.

Tapi yang paling penting, sejak itu, PLTS begitu membekas dihatinya. Berbuah cinta.

Kecintaan itu juga yang membuatnya begitu peka. Ketika menyaksikan para petani padi di Kampar yang mengalami kesuitan. Karena untuk mengairi ladang, hanya mengandalkan hujan. Pernah ada pompa air menggunakan tenaga Diesel, namun untuk mengoperasikannya butuh biaya besar.

Saat itulah Fidel merancang pompa air bertenaga surya. Sekaligus dijadikan bahan proposal skripsinya. Biaya penoperasiannya sangat murah.

Untuk mendalami, ia berniat bergabung dengan komunitas PLTS di Jogja. Namun terkendala dana. “Beruntung Wakil Dekan saat itu iibu Okfalisa, memberikan bantuan dana”. Ujar Fidel mengenang.

Sebelum ke Jogja, Fidel sempat tergoda untuk cepat wisuda. Memaksakan proposal yang saat itu belum sempurna.Berujung pada kegagalan saat ujian proposal. Setelah di revisi hampir 70 persen, dalam waktu dua pekan berhasil diperbaiki. Dengan nilai memuaskan.

Walaupun tak pernah tergabung secara resmi di kepengurusan BEM, namun hampir sebagian besar waktunya dihabiskan di sekretariat HIMATE. Disini ia juga mendirikan berbagai komunitas dan sanggar. Sampai kini masih dirasakan manfaatnya. Diantaranya, Sanggar Anak Teknik Elektro (SATE), komunitas English Sharing, Garuda Renewble Energy (GReEn) komunitas diskusi terkait energy terbarukan.

Lalu bagaimana certanya, Fidel bisa diterima di perusahaan Belanda sebelum tamat kuliah?. Jawaban Fidel, Mimpi dan cinta. “Saya orangnya berani bermimpi karena mimpi itu gratis. Kalau tak dapat nggak rugi. Kalau dapat beruntung. Beda dengan judi” . ungkap Fidel.

Ternyata sebelum ujian skripsi, ia telah punya mimpi bisa bekerja diperusahaan luar. Ia memperoleh informasi bahwa di Indonesia ada perusahaan Belanda yang bergerak dibidang Energi terbarukan. Bidang yang membuatnya jatuh cinta.

Saat itulah ia mengirim lamaran. Dengan menceritakan pengalaman-penglamannnya dibidang energi terbarukan. Khususnya PLTS.

Tak disangka, sebulan kemudian ia ditelpon langsung  Mr. Pieter de Vries. Warga Belanda pemilik perusahaan Contained Energy. Stelah wawancara lewat chating WA, ia pun diterima. Fidel memilih ditempatkan di Bali.

Dalam hidup Fidel punya prinsip, perdalam ilmu, perbanyak pengalaman, besarkan jiwa. Percuma kita punya banyak ilmu tapi tak berjiwa besar atau sombong. Merasa puas, tak mau belajar lagi. Jadi tetap besarkan jiwa merasa belum apa-apa. Jadi semangat untuk belajar. Jangan pernah berhenti bermimpi. Karena orang yang bisa meraih mimipi orang yang bermimpi.***

Penulis: Suardi

Dosen Prodi Komunikasi FDK UIN Suska Riau

Please follow and like us:

Tinggalkan Balasan